Kamis, 15 Maret 2012

LEGENDA HURUF JAWA,SERAT AJI SAKA&DEWATA CENGKAR

Legenda atau cerita rakyat yang ada dalam setiap suku, yang menceritakan asal usul terjadinya suatu peristiwa memang menarik untuk di ceritakan kembali kepada anak-anak kita. Begitu juga dengan legenda Aji Saka yang konon dialah yang menciptakan tulisan/huruf Jawa, Ha Na Ca Ra Ka.
Legenda ini berawal dari kedatangan Aji Saka bersama dua orang pengawalnya yang setia, Durga dan Sembada dari India ke tanah Jawa yang terkenal keindahannya bagai Swargaloka. Mereka singgah di salah satu kerajaan bernama Medang Kamulan.
Sebelum meneruskan pengembaraannya, Aji Saka memerintahkan Durga untuk tinggal dan menjaga kapal mereka serta menitipkan sebuah keris pusaka yang harus ia jaga dengan sepenuh hati seperti ia menjaga nyawanya sendiri, dan tidak boleh di serahkan kepada siapapun juga selain Aji Saka sendiri yang memintanya
.
Aji Saka melanjutkan perjalanannya bersama Sambada menuju ke Medang Kamulan. Sesampai mereka di desa, Aji Saka dan Sambada heran melihat desa yang mereka singgahi begitu sepi. Penduduk bersembunyi dan menutup rapat pintu dan jendela rumah mereka seolah takut keberadaan mereka di ketahui.
Tak lama, Aji Saka berpapasan dengan seorang tua yang berjalan bersama seorang anak gadis dengan wajah muram dan sedih. Bertanyalah Aji Saka kenapa mereka bersedih. Bapak tua itu bercerita bahwa hari ini tibalah ia memberikan persembahan untuk sang prabu sebagai santapan. Medang Kamulan di perintah oleh seorang raja berujud setengah manusia dan setengah raksasa, dan dalam beberapa hari sekali, sang raja meminta daging manusia untuk santapannya.
Mendengar cerita ini, Aji Saka merasa iba dan bertekad menolong penduduk desa. Maka, berkatalah ia pada si Bapak tua, bahwa dia yang akan menggantikan anak gadisnya sebagai santapan sang Prabu Dewatacengkar.
Maka, berangkatlah Aji Saka dan Sembada menemui sang Prabu. Prabu Dewatacengkar begitu gembira menyambut kedatangan Aji Saka, apalagi setelah melihat bahwa santapannya kali ini masih muda. Prabu dewatacengkar telah membayangkan menyantap daging muda yang masih segar.
Namun, sebelum sang Prabu menyantapnya, Aji Saka mengajukan syarat. Apabila sang Prabu mampu menarik habis kain sorbannya (ikat kepala) maka, Aji Saka akan dengan rela menyerahkan nyawanya untuk di santap. Syarat ini di sanggupi sang Prabu. Rakyat berduyun-duyun datang ke kota raja untuk melihat hal ini. Ajaib sekali dengan kesaktiannya, kain ikat kepala Aji Saka tak habis meski Prabu Dewatacengkar telah menariknya sampai keluar dari daerah kekuasaanya.
Akhirnya, sampailah Prabu Dewatacengkar di pesisir pantai Selatan. Anehnya, sesampainya sang prabu di pesisir pantai, habis pulalah kain ikat kepala Aji Saka. Maka, dengan kesaktiannya di kibaskanlah kain ikat kepala itu yang membuat Prabu Dewatacengkar terpelanting dan jatuh ke dalam pantai Selatan. Sesaat setelah tubuh sang Prabu di telan ombak, muncullah seekor buaya putih raksasa. Ternyata, ujud sang Prabu telah berubah menjadi buaya putih raksasa.
Setelah itu, Aji Saka di angkat menjadi raja Medang Kamulan. Setelah beberapa waktu memerintah, teringatlah Aji Saka akan Durga pengawalnya yang lain. Maka di utuslah Sambada untuk menjemput Durga untuk tinggal bersama mereka di Medang Kamulan. Berangkatlah Sembada menjemput Durga.
Sesampainya di tempat terakhir mereka berpisah, Sembada meminta kembali keris pusaka Aji Saka dan mengabarkan bahwa Aji Saka kini telah menjadi raja Medang Kamulan dan mengajak serta dirinya untuk tinggal di sana. Namun, karena Durga teringat pesan Aji Saka untuk tidak menyerahkan keris pusaka kepada siapapun kecuali dirinya, Durga tidak menyerahkannya. Terjadilah salah paham di antara keduanya, dan pertarunganpun tak dapat di elakkan. Karena mereka sama-sama sakti, akhirnya merekapun gugur bersama.
Lama berselang tak lagi terdengar kabar baik dari Sembada maupun Durga, akhirnya Aji Saka memutuskan untuk menjemput mereka sendiri. Namun terkejutlah dia saat tiba di tempat pertama ia meninggalkan Durga, Aji Saka melihat ke dua abdi setianya telah tewas dan menjadi bangkai. Sedih dan menyesal akan kecerobohannya maka, Aji Saka menulis ha na ca ra ka pada sebuah daun lontar.
Inilah aksara Jawa yang terkenal itu:
ha na ca ra ka artinya : Ada utusan
da ta sa wa la artinta : Saling bertengkar
pa dha ja ya nya artinya : Sama saktinya
ma ga ba tha nga artinya : Gugur bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar